Thursday, April 10, 2008

Sharing: 1 Year back to Surabaya



Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.
Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal,
ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan;
ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa;
ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari;
ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu;
ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi;
ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit;
ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci;
ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
[ Pengkhotbah 3 : 1 - 8 ]


Dan sekarang, adalah waktu bagi Herry untuk menulis, tepat satu tahun sejak Tuhan bawa Herry pulang ke Surabaya.

Untuk segala sesuatu ada masanya, tetapi
I. Seringkali manusia tidak mengetahui kapankah waktunya.
Kita mungkin bisa menghitung kapan kira-kira seorang bayi akan lahir, tapi kita tidak tahu kapan kita atau orang-orang yang kita sayangi meninggal. Kita juga tidak tahu kapan kita atau orang-orang yang kita sayangi terserang penyakit ini dan itu, dan kita tidak tahu apakah kita atau mereka akan sembuh.

Dalam hal ini, Herry sekeluarga hanya bisa bersyukur karena ada waktu Papi sakit, tetapi ada waktu Papi telah Tuhan sembuhkan. Sejak bulan September 2007, Tuhan telah memakai begitu banyak orang dan cara untuk membawa kesembuhan kepada Papi. Mulai dari dokter2, perawat2, tuan rumah, pembantu, sahabat2 di Singapore, saudara-saudari seiman dari Gereja2 di Surabaya, bahkan saudara-saudari seiman di LA. Setiap dari saudara saudari yang sudah dengan setia dan penuh perhatian mendukung kami dalam doa dan encouragement, kami hanya bisa mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya.

Minggu lalu, awal April Papi check-up di Singapore, hasil MRI ataupun tes darah semua menunjukkan Papi dalam keadaan yang sangat baik, dan para dokter hanya bisa memuliakan Tuhan untuk semuanya itu. Papi sendiri sejak kembali dari Singapore bulan Februari lalu sudah langsung beraktivitas seperti biasanya baik dalam pekerjaannya maupun pelayanan Paduan Suara di Gereja. Satu-satunya aktivitas yang mungkin hilang adalah olahraga yang dulu bisa tennis 3 kali dalam seminggu, diganti dengan lari pagi dan sepeda.

Melalui semuanya ini, Herry pribadi belajar beberapa hal:
1. Be ready to get sick.
Agak nyeleneh ya tapi Herry rasa kita semua mau tidak mau harus menyiapkan diri untuk yang satu ini.
Beberapa orang dan dokter mungkin masih kurang percaya Papi bisa terkena penyakit seberat ini karena secara fisik sangat sehat, hasil tes darah selalu sangat baik (no cholestrol dan kroni-kroninya), olahraga secara rutin, tidak ada timbunan lemak, semuanya sangat baik. Tapi kita belajar janganlah kita mengira kita sudah menjaga kesehatan kita dengan baik, maka kita bisa berharap kita akan selalu sehat. Semuanya ini menunjukkan betapa rapuhnya kita sebagai manusia. Tapi sebaliknya jangan berarti kita lalu tidak menjaga kesehatan kita karena toh kita akan sakit juga. Sehat itu anugerah, sakit itu juga anugerah.

2. Jangan menggantungkan harapan kepada kekayaan (dan asuransi)
Melalui semuanya ini kami juga belajar untuk tidak menggantungkan harapan kepada uang. Beberapa minggu sebelum kami tahu Papi terkena lymphoma, Papi mulai pusing2 dan tiba2 menanyakan ada asuransi kesehatan tidak. Awal September itu Papi lalu apply asuransi tapi di akhir bulan Papi sudah terkena penyakit itu jadi asuransi belum keluar dan belum bisa di-klaim sampai setelah 6 bulan. Tentu saja ada penyesalan kenapa nggak dari dulu2 ikut asuransinya, tetapi sekali lagi kami belajar untuk tidak menaruh harapan kepada asuransi dunia, karena ada asuransi yang lebih pasti dari Sang Penjamin, Dia memberikan asuransi bahwa Dia akan mencukupkan segala kebutuhan kami, tanpa procedure panjang lebar. Segala yang kita punyai itu toh dari Tuhan. Ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang (ya bukan berarti di-buang, tapi di-spend).

3. God is in charge
2 hal di atas mungkin penting tapi itu semua hanya hal2 lahiriah saja, pelajaran yang terpenting dari pengalaman ini adalah belajar beriman, mengimani bahwa God is in control, that He works for our good, even when we cannot see how it could.

4. Bonus
When you are in good times, your friends will know who you are. When you are in bad times, you will know who your friends are.

Dan pada akhirnya, kita hanya bisa percaya dan yakin ...

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,
bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.
Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan
yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.
[ Pengkhotbah 3 : 11 ]

No comments:

Post a Comment